• Tue. Jun 18th, 2024

UBICO News

Portal Berita Akuntansi, Pajak, Keuangan dan Bisnis Terpercaya

Yakin Mau Mengalihkan Kredit? Simak Hukumnya Dalam Islam!

Dalam kehidupan jaman sekarang, banyak sekali kasus orang berkredit, kemudian tak sanggup melanjutkannya. Atau ada orang yang demikian butuh barang, namun malas untuk mengurus pembeliannya. Hal tersebut terjadi pada jual beli barang yang remeh-temeh sampai rumah atau tanah.

Lalu bagaimana syariah islam mengaturnya?

Agar lebih mudah untuk dipahami, ambillah satu contoh. Ada dua orang bersaudara, Pak Imam dan Ibu Ina. Pak Imam sedang mencicil mobil. Ternyata di tengah-tengah masa cicilan, Bu Ina membutuhkan mobil. Pak Imam berinisiatif untuk menjual mobilnya.

Tentu saja Pak Imam menerangkan kebenaran tentang kondisi mobilnya tersebut. Bu Ina pun memahami kondisi kendaraan milik saudaranya. Sehingga keduanya sama-sama tahu, dan tidak ada yang berniat buruk di dalamnya.

Kemudian Pak Imam dan Bu Ina, melakukan proses tawar menawar. Dari kesepakatan keduanya, mobil dihargai 130 juta, dari harga asal dari dealer 150 juta. Sampainya pada kesepakatan harga tersebut, dikarenakan mobil telah dipergunakan selama satu tahun, sehingga ada penyusutan.

Kemudian masa cicilan masih tersiswa 12 bulan, dengan cicilan per bulan senilai 5 juta. Sehingga ada sisa cicilan senilai 60 juta, yang harus dibayar Bu Ina. Sehingga jumlah cicilan tersebut dijadikan potongan harga. Maka Bu Ina membayar total pembelian mobil senilai 50 juta tunai.

Proses jual beli tersebut dinukil dari islam.nu.or.id mengenai “hukum jual beli barang kredit yang belum lunas”, adalah diperbolehkan asal:

Pertama, Pak Imam melakukan pelunasan terlebih dahulu kepada pihak dealer seluruh tanggungannya berkaitan dengan kredit mobil. Selanjutnya setelah menjadi miliknya, barulah melakukan traksaksi jual beli baru, dengan Bu Ina. Maka dalam hal ini jual beli adalah murni melibatkan dua pihak saja. Tidak ada pihak ketiga, yaitu pihak dealer. Sudah jelas bahwa transaksi yang demikian diperbolehkan dalam syariah islam.

Kedua, Pak Imam dan Bu Ina melakukan akad pengalihan utang (akad hiwalah). Sehingga pada dasarnya, barang selama masa cicilan masih milik Pak Imam. Oleh karenanya pihak pertama yakni Pak Imam, tidak boleh berlepas tangan atas transaksi jual beli tersebut. Ia harus tetap mengawal keseluruhan proses penyelesaian jual beli dengan pihak ketiga.

Nah, ternyata syariah islam selalu berupaya melindungi setiap orang yang terlibat dalam sebuah transaksi. Ada lebih banyak pertanyaan mengenai syariah islam dalam jual beli? Atau anda mengusulkan membahas sesuatu yang baru dalam ekonomi islam? Silahkan tinggalkan pertanyaan atau usulan anda di kolom komentar.

By Wewin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *