• Sun. Sep 25th, 2022

UBICO News

Portal Berita Akuntansi, Pajak, Keuangan dan Bisnis Terpercaya

Simak, 3 Penyebab Mahalnya Bank Syariah

Media sosial kemarin (20/5/2021) dihebohkan dengan pernyataan Ustadz Kondang Yusuf Mansur, mengenai mahalnya bank syariah. Apa saja yang mahal?

Kalau versi Ustadz Yusuf Mansur, mulai pengurusannya sudah susah dan mahal. Kalau berdasarkan beragam sumber yang berkeliaran di media elektronik, cicilannya yang mahal.

Ternyata memang hal tersebut benar adanya dan diakui oleh beberapa ahli ekonomi syariah di Indonesia. Ada banyak pendapat, namun meruncing menjadi tiga hal yang menjadi penyebab mahalnya bank syariah.

Ukuran bank yang kecil

Bank syariah di Indonesia, umumnya masih berukuran kecil. Karena dari segi berdirinya pun masih sangat baru. Bank syariah pertama di Indonesia yakni Bank Muamalat saja, baru berdiri di tahun 1992. Sedangkan bank konvensional sudah ada sejak jaman Hindia-Belanda.

Dari jarak lahirnya yang demikian jauh, maka tidak heran jika bank konvensional ukurannya sudah besar. Tak hanya besar, namun juga cukup dikenal masyarakat Indonesia. Sedangkan bank syariah masih dalam tahapan membangun.

Cost of Fund Tinggi

Akibat dari ukurannya yang kecil, maka bank syariah harus menanggung cost of fund yang tinggi. Cost of fund atau biaya penghimpunan dana, adalah biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk menarik dana dari masyarakat.

Dijelaskan oleh Direktur Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) dan Staf Pengajar FEUI Yusuf Wibisono pada finance.detik.com (20/05/2021), bahwa harus ada banyak upaya yang perlu dilakukan oleh bank syariah agar bisa bersaing dengan bank konvensional. Diantaranya adalah memberikan iming-iming bunga yang kompetitif.

Masih menurut Yusuf Wibisana, bank syariah juga masih fokus kepada nasabah dengan dana yang besar. Sebab kebutuhan dananya yang besar. Akan tetapi nasabah besar juga menginginkan return yang besar pula.

Maka tidak heran jika cost of fund bank syariah menjadi tinggi.

Belum lagi, bank syariah berhadapan dengan tantangan infrastruktur dan teknologi. Kedua hal tersebut, bukan menjadi masalah bagi bank konvensional. Mereka cukup mapan, dan terus melakukan pengembangan. Oleh sebab itu, kemudian muncul penyebab berikutnya.

Belum menjadi bank transaksional

Karena kurangnya infrastruktur dan teknologi, maka bank syariah belum menjadi bank transaksional. Maksud bank transaksional adalah bank yang tidak hanya dipergunakan untuk keperluan menyimpan uang, namun juga sebagai penyalur transaksi. Contohnya adalah untuk pembayaran aneka tagihan, belanja dan aneka keperluan transaksional lainnya.

Nasabah bank syariah umumnya hanya menabung saja. Masih sangat jarang yang menggunakannya untuk transaksional.

Berbeda dengan bank konvensional, yang telah memiliki infrastruktur mapan dan luas, jaringan ATM yang memadai, dan mobile banking yang bagus. Dengan semuanya, maka dengan mudah bank tersebut menjadi bank transaksional.

Sehingga nasabah tidak hanya datang untuk menabung, namun dengan aneka keperluan. Hal yang terjadi kemudian, semakin mudah untuk menghimpun dana dari nasabah. Maka bank konvensional bisa menjadi lebih murah.

Lalu, apakah harus menyerah dengan Bank Syariah?

Bank syariah sebagai salah satu bagian dari ekonomi syariah, adalah salah satu alternatif jawaban atas perekonomian yang terus berulang mengalami krisis. Sebagai hal yang baru tentu butuh sekali banyak perbaikan dan dukungan. Oleh sebab itu bank syariah tentu harus tetap bertahan dan berkembang.

Salah satunya adalah dengan dukungan penuh pemerintah. Kemudian studi terus menerus tentang bank syariah harus terus dilakukan. Karena jalan ekonomi islam masih baru dimulai dan masih sangat panjang.

Jadi mengapa mengeluh sekarang? Ketika perjuangan baru dimulai.

Leave a Reply

Your email address will not be published.