• Tue. Jun 18th, 2024

UBICO News

Portal Berita Akuntansi, Pajak, Keuangan dan Bisnis Terpercaya

Pusing Pencatatan Keuangan UMKM? Yuk Simak Hal Berikut!

Pencatatan keuangan UMKM adalah hal penting yang harus dilakukan Sobat UMKM. Karena darinya, Sobat UMKM bisa tahu persis kondisi keuangan bisnis, melakukan evaluasi keuangan, dan memperkirakan kebutuhan keuangan di masa mendatang. Selain itu, sehubungan dengan pajak, pencatatan keuangan secara mandiri diperlukan untuk menentukan besar pajak yang harus dibayar, sesuai sistem self assesment yang menyatakan bahwa wajib pajak menghitung sendiri kewajiban pajaknya. 

Berpikir tentang mencatat transaksi keuangan, kebanyakan dari Sobat UMKM tentu membayangkan sebuah pencatatan yang harus menghasilkan beragam laporan keuangan. Hal tersebut memang benar adanya. Namun dalam urusan perpajakan, Dirjen Pajak memberikan keringanan bagi UMKM, yakni cukup menyediakan pencatatan keuangan yang sederhana. Nah, pencatatan keuangan seperti apa itu?

Pencatatan keuangan UMKM sederhana

Pencatatan keuangan UMKM tentu dilakukan oleh semua bisnis. Dari yang berdagang cilok seharga Rp 500 per butir, sampai perusahaan multinasional dengan harga barang per itemnya Rp 500.000.000. Namun tentu saja ada perbedaan pencatatan transaksi keuangan antara perusahaan yang masuk kategori UMKM dan besar. Makin besar ukuran bisnis atau perusahaannya, maka akan makin rumit pencatatan transaksi keuangannya. Hal tersebut terjadi karena makin banyak relasi yang terbangun dan rumitnya proses produksi serta operasional yang dilakukan. Kewajiban pajaknya tentu juga beragam dan rumit pula.

Lalu bagaimana dengan UMKM, yang memiliki kewajiban perpajakan juga?

Tentu saja UMKM tetap harus membuat pencatatan keuangan. Namun, kemudian Dirjen Pajak menyebut adanya pencatatan keuangan sederhana, yakni pencatatan yang cukup bisa menampilkan omzet dan aset dalam sebuah bisnis. Sebab kedua hal tersebut, yang berkaitan erat dengan pengenaan pajak. Dirjen pajak melakukan demikian, karena UMKM terutama yang masih dalam kategori mikro, proses dan operasional bisnisnya masih sederhana atau bahkan sangat sederhana. Kemudian juga terdapat keterbatasan tenaga kerja, sehingga pemilik bisa merangkap hampir semua pekerjaan dalam bisnis, termasuk pencatatan keuangan. Karena itu dengan memperingan kewajiban menyediakan pencatatan keuangan sederhana, bagi wajib pajak (WP) UMKM, diharapkan kepatuhan perpajakan semakin meningkat. Tentu keuntungannya akan dirasakan kedua belah pihak, pajak dan WP UMKM. 

Meski sudah diberi label sederhana, tentu beberapa Sobat UMKM masih bingung untuk membuatnya. Oleh sebab itu, lanjut baca untuk bisa membuat pencatatan keuangan sederhana, yang tetap menghasilkan informasi keuangan yang akurat.

Akun-akun dalam pencatatan keuangan

Pencatatan keuangan UMKM yang pertama tentu saja Sobat UMKM, perlu untuk mengenal yang disebut dengan akun yang merupakan tempat untuk mencatat setiap transaksi keuangan. Nantinya transaksi-transaksi keuangan yang sejenis akan disatukan dalam satu akun, sehingga mempermudah dalam membuat laporan keuangan. Berikut adalah beberapa akun yang ada dalam pencatatan keuangan.

  • Harta, adalah semua aset yang dimiliki oleh Sobat UMKM, terdiri atas: kas, piutang, persediaan barang dagangan, kendaraan, tanah, rumah, dan sebagainya yang masuk sebagai klasifikasi harta.  
  • Utang, adalah semua kewajiban yang harus dibayarkan oleh Sobat UMKM, seperti: utang usaha, utang bank, dan kewajiban-kewajiban lainnya.  
  • Modal, adalah semua harta yang dipergunakan untuk berbisnis termasuk tambahannya. 
  • Pendapatan adalah pendapatan yang diperoleh dari operasional bisnis. 
  • Beban adalah semua beban yang harus dikeluarkan untuk operasional bisnis. 

Akun-akun tersebut kemudian Sobat pergunakan untuk mencatat setiap transaksi keuangan yang terjadi dalam bisnis. Tentu saja ada cara untuk mencatat penambahan atau pengurangan dalam akun-akun tersebut.

Tata Cara mencatat transaksi keuangan

Untuk mencatat transaksi keuangan, tentu Sobat UMKM wajib untuk mengikuti langka-langkah berikut:

  1. Beri keterangan mengenai perusahaan atau judul pencatatan. Dalam akuntansi, biasanya untuk pencatatan keuangan disebut pula dengan penjurnalan. Mengenai judulnya, biasanya adalah “Jurnal Umum” kemudian diikuti keterangan nama perusahaan.
  2. Persiapkan kolom pencatatan yang terdiri dari 6 kolom untuk: nomor transaksi, tanggal transaksi, keterangan transaksi, referensi, kolom debit, kolom kredit. Nomor transaksi adalah untuk mencatat urutan transaksi. Tanggal transaksi adalah untuk mencatat tanggal terjadinya transaksi keuangan. Keterangan transaksi adalah untuk mencatat penambahan atau pengurangan akun yang terjadi akibat sebuah transaksi keuangan. Referensi adalah kolom yang dipergunakan untuk proses pemindahan transaksi ke dalam buku besar. Debit adalah untuk mencatat akun yang didebit. Kredit adalah untuk mencatat akun yang dikredit.    
  3. Selalu catat tanggal transaksi, karena hal ini berhubungan erat dengan keakuratan pencatatan keuangan. 
  4. Pencatatan dengan menggunakan akun, mengikuti cara tertentu untuk penambahan dan pengurangannya. Uraian caranya adalah sebagai berikut.  
  • Harta, bertambah debit, berkurang kredit. 
  • Utang, bertambah kredit, berkurang debit.
  • Modal, bertambah kredit, berkurang debit.
  • Pendapatan, bertambah kredit, berkurang debit.
  • Penjualan, bertambah kredit, berkurang debit.
  • Pembelian, bertambah debit, berkurang kredit.
  • Beban, bertambah debit, berkurang kredit. 
  1. Pada bagian keterangan transaksi berikan penjelasan mengenai transaksi tersebut. 

Agar lebih memahami cara pencatatan keuangan tersebut, berikut adalah contoh pencatatan transaksi keuangan dalam bisnis.

Contoh Pencatatan Keuangan UMKM

Pak Hadi memiliki bisnis kursus mengemudi “Lancar Selamat”. Rangkuman transaksi keuangannya selama bulan Juni 2023, adalah sebagai berikut.

  1. 1 Juli, memulai usaha dengan modal sendiri Rp 500.000.000, dan pinjaman bank Rp 500.000.000.
  2. 5 Juli, membeli mobil untuk latihan sebanyak 5, dengan total pembelian Rp 500.000.000, dibayar tunai Rp 200.000.000, sisanya mencicil selama 12 bulan.
  3. 10 Juli memperoleh murid untuk les mengemudi dengan membayar tunai Rp 1.500.000.
  4. 12 Juli memperoleh 10 murid untuk les mengemudi dengan membayar tunai masing-masing Rp 1.500.000.
  5. 13 Juli, membayar biaya sewa tempat untuk 1 tahun, senilai Rp 50.000.000.
  6. 15 Juli, membayar biaya listrik sebesar Rp 200.000.
  7. 16 Juli, membayar biaya telepon, internet, dan pulsa sebesar Rp 500.000.
  8. 20 Juli, membayar gaji pegawai, instruktur sebanyak 3 orang dan administrasi 1 orang, masing-masing Rp 3.000.000.

Pencatatan transaksi keuangan di atas adalah sebagai berikut.

Kursus Mengemudi “Lancar Jaya”Jurnal Umum Juli 2023(Dalam Rp)
Nomor TransaksiTanggalKeteranganReferensiDebitKredit
1.1KasModalUtang Bank(Modal awal usaha)1.000.000.000
500.000.000500.000.000
2.5KendaraanKasUtang Usaha(Membeli 5 unit mobil untuk latihan)500.000.000
200.000.000300.000.000
3.10KasPendapatan(Menerima pembayaran murid les 1 orang)1.500.000
1.500.000
4.12KasPendapatan(Menerima pembayaran murid les 10 orang)15.000.000
15.000.000
5.13Beban sewaKas(Membayar sewa tempat untuk 1 tahun)50.000.000
50.000.000
6.15Beban listrikKas(Membayar biaya listrik bulan Juni)200.000
200.000
7.16Beban telepon, pulsa, dan internetKas(Membayar biaya telepon, pulsa, dan internet)500.000
500.000
8.20Beban GajiKas(Membayar gaji pegawai 4 orang, masing-masing Rp 3.000.000)12.000.000
12.000.000

Contoh Ringkasan Aset dan Omzet

Dari pencatatan tersebut, maka dapat diketahui harta dan omzet usaha Pak Hadi pada akhir Juli 2023, adalah sebagai berikut.

Total Harta, terdiri dari:Uang Tunai atau Kas


Kendaraan

1.000.000.000-200.000.000+1.500.000+15.000.000-50.000.000-200.000-500.000-12.000.000




Rp 753.800.000Rp 500.000.000
Total Utang, terdiri dari:Utang bankUtang kendaraan
Rp 500.000.000Rp 300.000.000
Total Modal, terdiri dari:Modal sendiriRugi
500.000.000 – 46.200.000


Rp 453.800.000
Pendapatan dari 11 siswa mengemudi11 x 1.500.000Rp 16.500.000
Total Beban, terdiri dari:Beban sewaBeban listrikBeban telepon, pulsa, dan internetBeban gaji




4 x Rp 3.000.000

Rp 50.000.000Rp 200.000
Rp 500.000Rp 12.000.000
RugiPendapatan – BebanRp 46.200.000

Dari rangkuman tersebut, tampak jumlah harta atau aset yang dimiliki Pak Hadi dari bisnisnya sejumlah Rp 1.253.800.000, sedangkan omzet bisnisnya selama sebulan sejumlah Rp 16.500.000. 

Jumlah inilah yang kemudian akan dilaporkan kepada Pajak.

Aplikasi untuk mencatat keuangan

Sepertinya membuat pencatatan keuangan sederhana, ternyata tidak terlalu sederhana. Tapi jangan khawatir, kini Sobat UMKM bisa melakukan pencatatan dengan benar-benar sederhana, dan bahkan menghasilkan laporan keuangan yang lengkap, dengan menggunakan aplikasi. 

Ada beragam aplikasi untuk pencatatan dan pelaporan keuangan yang bisa Sobat UMKM instal, baik yang berbayar maupun gratis. Aplikasi pencatatan keuangan yang berbayar misalnya: Zahir, Accurate, dan sebagainya. Sedangkan untuk yang gratis, diantaranya: bee accounting, dan masih banyak lainnya.

Jadi, Sobat UMKM, pencatatan keuangan UMKM kini bukan masalah lagi bukan. Sehingga menghitung kewajiban perpajakan juga bukan lagi masalah.

By Wewin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *