• Tue. Sep 20th, 2022

UBICO News

Portal Berita Akuntansi, Pajak, Keuangan dan Bisnis Terpercaya

Koboi Fortuner, Ternyata Pemilik Startup Peer to Peer Lending

Sekilas Startup Peer to Peer Lending

Sepanjang hari sabtu kemarin, dunia maya dihebohkan dengan koboi fortuner yang meresahkan. Membawa senjata, dan mengancam warga pula. Kejadiannya sih sebentar saja bahkan sudah diselesaikan oleh pihak yang berwajib. Tetapi efeknya bagi si pengendara koboi cukup besar. Salah satunya adalah terkuak fakta bahwa si koboi adalah pemilik perusahaan start up Restock.id.

Aksi si koboi tentu saja mengganggu, tetapi tetap menarik karena menjadi viral. Namun yang lebih layak untuk disimak, adalah fakta si anak muda adalah pemilik sebuah perusahaan. Startup lagi. Milenial banget kan?

Yup, perusahaan milik si pemudah koboi adalah Restock.id. Perusahaan tersebut adalah jenis startup yang bergerak di bidang peer to peer lending atau sering disingkat dengan P2P lending. Ini adalah salah satu bentuk startup yang memiliki banyak peminat.

P2P lending adalah startup yang bergerak di bidang pinjaman dana. Di dalamnya ada pihak yang berinvestasi untuk memberikan dananya. Dan di pihak lain ada peminjam yang membutuhkan sejumlah dana. Nah karena ada dua pihak yang saling membutuhkan tersebut, maka P2P lending mempertemukan keduanya dalam sebuah platform online. Di dalam pertemuan saling membutuhkan tersebut, lembaga keuangan tidak terlibat. Sehingga mekanisme kerja dalam P2P lending adalah mengumpulkan dana dari investor, kemudian menyalurkan dana tersebut kepada para peminjam.

Untuk menjadi investor di P2P lending tidak membutuhkan dana yang besar, bahkan bisa dimulai dari Rp 200.000 saja. Sedangkan peminjam bisa mengajukan pendanaan mulai dari ratus ribuan sampai jutaan. Nantinya pinjaman yang diajukan akan ditawarkan kepada para investor. Selanjutnya para investor akan mengumpulkan dananya untuk membiayai pinjaman tersebut. Tentu saja ada bunga atas pinjaman tersebut, yang difungsikan sebagai pendapatan investor.

Model peminjaman uang dengan P2P lending, tidak membutuhkan banyak persyaratan seperti bank dan bisa tanpa jaminan. Sehingga model ini sangat memudahkan bagi UMKM untuk pembiayaan. Sebab seringkali UMKM terkendala persyaratan yang rumit saat mengajukan peminjaman ke lembaga keuangan. Namun perlu dicermati bahwa bunga di P2P lending bisa naik turun, tidak flat seperti di perbankan atau lembaga keuangan. Selain itu tidak semua pinjaman bisa disetujui. Sehingga perlu studi lebih mendalam jika akan meminjam uang di P2P lending.

Bagi investor yang akan menanamkan kelebihan dana, juga wajib teliti sebelum menaruh dananya pada P2P lending. Tanpa persyaratan yang ketat dan agunan untuk peminjaman, maka ada resiko terburuk bahwa dana yang sudah ditanamkan tidak bisa kembali. Tetapi jika berlangsung lancar keuntungan yang diperoleh juga akan lumayan. Sehingga penting pula untuk selalu mendiversifikasi investasi, meski di bidang P2P lending.

Satu hal yang bisa menenangkan para investor dan peminjam, bahwa model bisnis startup P2P lending telah mendapat ijin dari otoritas jasa keuangan (OJK). Sehingga dapat dikatakan pemerintah sebagai regulator telah hadir di dalamnya. Tetapi kewaspadaan setiap individu tentu saja tetap dibutuhkan.

P2P lending memang sedang naik daun dan makin banyak yang meminatinya. Namun anda sebagai calon investor, peminjam atau bahkan calon pendirinya perlu untuk selalu cermat dan hati-hati. Satu lagi jangan bertindak meniru-niru koboi, yang akan membuat anda masuk bui. Yuk semangat menjalani hari-hari!

Leave a Reply

Your email address will not be published.