• Tue. Jun 18th, 2024

UBICO News

Portal Berita Akuntansi, Pajak, Keuangan dan Bisnis Terpercaya

Apakah Anda Pengusaha Yang Wajib Berzakat?

Wah, memang ada yang tidak wajib berzakat? Jawabannya, ada kok, apalagi di masa pandemi begini, ada banyak pengusaha yang mengalami kemerosotan bisnis, kewajibannya menggunung. Nah, supaya anda tidak ragu, simak saja artikel berikut guna memastikan anda termasuk yang harus berzakat atau belum.

Zakat

Zakat adalah kewajiban setiap muslim tak terkecuali, terutama untuk zakat fitrah. Sedangkan untuk zakat lain seperti: perdagangan, pertanian, peternakan, harta benda dan lainnya, hanya dikenakan pada orang-orang tertentu. Zakat jenis ini dikenal pula dengan zakat ma’al (zakat harta benda).

Siapa saja yang wajib zakat ma’al?

Siapa saja orang tertentu tersebut? Ya sudah pasti yang memiliki harta benda, yang berasal dari perdagangan, pertanian, peternakan dan harta benda lainnya. Kalau tidak memiliki semuanya, maka otomatis tidak ada kewajiban untuk zakat. Tetapi tidak semua orang dengan kepemilikan atas benda-benda tersebut, memiliki kewajiban untuk membayar zakat. Ada satu kriteria lagi, agar seseorang menyandang kewajiban untuk membayar zakat.

Nisab

Kriteria tertentu yang harus dipenuhi untuk membayar zakat adalah harta benda telah mencapai nisab. Secara sederhana pengertian nisab adalah jumlah minimum harta yang harus dikeluarkan zakatnya. Jumlah minimum tersebut menimbulkan kewajiban untuk bayar zakat. Jika belum sampai, maka tidak ada kewajiban untuk bayar zakat. Nisab ada beragam tergantung jenis harta benda yang harus dizakati. Ada pertanian, peternakan, perniagaan dan lainnya. Perhitungan nisab harta benda, diakumulasi untuk satu tahun atau disebut pula sebagai haul.

Nah, kalau pengusaha maka urusan utamanya adalah perniagaan. Maka zakat ma’al yang yang harus dikeluarkan adalah kategori perdagangan. Nah, pertama-tama tentu saja yang harus diketahui adalah nisab untuk perdagangan, yaitu senilai 85 gram emas. Nisab tersebut jika diuangkan senilai emas saat ini (asumsi per gram Rp 1 juta), maka nilainya adalah Rp 85 juta. Nisabnya sudah pasti kan?

Perhitungan Zakat Ma’al

Lalu, apa saja yang perlu untuk dikeluarkan zakatnya dari perdagangan?

Terdapat banyak pendapat mengenai harta apa saja yang perlu dihitung dalam perniagaan. Setidaknya ada empat macam pendapat, yaitu:

Pertama merujuk pada hadist Rasulullah SAW dari Samurah Bin Jundub, di dalamnya menjelaskan bahwa zakat perdagangan, dibebankan pada modal dan hasil perniagaan (ra’sul mal wa nama’uhu).

Kedua merujuk pada kitab al-Amwal, di dalamnya menjelaskan zakat pada perdagangan diperoleh dengan menjumlah seluruh persediaan (modal yang diputar) ditambah pendapatan, dana tunai atau simpanan, piutang lancar, kemudian diperinci daftar komoditasnya dan divaluasi.

Ketiga berdasarkan pada Peraturan Menteri Agama No 52 Tahun 2014 tentang Syarat dan Tata Cara Penghitungan Zakat Mal dan Zakat Fitrah serta Pendayagunaan Zakat untuk Usaha Produktif, yaitu:

  • Aktiva lancar – Kewajiban lancar

Keempat adalah perhitungan yang banyak dipergunakan pada lembaga-lembaga zakat, diantaranya:

  • Aset lancar utang jangka pendek
  • (Modal +keuntungan + piutang)-(utang +kerugian)
  • (Modal yang diputar + keuntungan + piutang yang dapat dicairkan)-(utang kerugian)
  • (Modal diputar +keuntungan + piutang)-(utang +kerugian)

Dengan rumusan-rumusan tersebut, pengusaha akan memperoleh nisab atas hartanya. Kemudian jika jumlahnya mencapai nisab, maka wajib mengeluarkan zakatnya senilai 2,5%. Tentu saja untuk seluruh harta benda yang anda miliki. Contoh perhitungan nisab dan zakat, secara sederhana adalah sebagai berikut:

Perhitungan harta tak sampai nisab

Pak Agus memiliki total pendapatan dan modal pada satu tahun periode bisnisnya (haul) Rp 100 juta. Ia juga memiliki kewajiban jangka pendek senilai Rp 20 juta.

Maka perhitungan hartanya = Rp (100 juta – 20 juta) = Rp 80 juta.

Dengan menggunakan nisab Rp 85 juta, maka Pak Agus belum wajib untuk membayar zakat ma’al, sebab          belum mencapai nisab.

Perhitungan harta sampai nisab dan zakat ma’al

Ibu Fatimah memiliki total pendapatan dan modal pada saat haul Rp 200 juta. Sedangkan untuk kewajiban jangka pendek yang harus dibayarnya adalah Rp 10 juta.

Maka perhitungan hartanya = Rp (200 juta – 10 juta) = Rp 190 juta, maka Ibu Fatimah wajib membayar zakat.

Perhitungan zakatnya = Rp 190 juta x 2,5% = Rp 4,75 juta (inilah besar zakat yang harus dibayarkan oleh Ibu Fatimah)

Perhitungan nizab dan zakat, memang tampak sederhana. Namun jika anda pengusaha dengan banyak ragam harta, tentu anda perlu perhitungan yang lebih mendetail.

Jadi sudahkah anda menghitung zakat atas usaha anda? Masih saja bingung? Konsultasi saja dengan ubico Accounting & Consulting, untuk perhitungan zakat yang lebih tepat dan akurat.

By Wewin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *